Selasa, 02 Juli 2013

ilmu olahragaIlmu Olahraga Merupakan ilmu terapan yang menggunakan cara pendekatan interdisipliner dan juga kros-disipliner. Ilmu-ilmu pendukungnya meliputi: ilmu alam, ilmu sosial, dan juga humaniora. ILMU OR merupakan bagian dari ilmu, landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis berlaku pada Ilmu OR, yang membatasi kekhususannya pada objek yang menjadi bidang kajiannya. MEDAN KAJIAN Secara ontologis medan kajian ilmu keolahragaan meliputi; 1. Bermain 2. Olahraga 3. Pendidikan Jasmani 4. Rekreasi 5. Tari Ilmu Olahraga mengkaji tentang fenomena manusia yang berolahraga / bergerak dengan aturan tertentu. Fenomena tersebut dapat diidentifikasi antara lain: *Biologis *Anatomis *Fisiologis *Psikologis *Mekanis *Pedagogis *Medis *Sosiologis *Historis *Filosofis *Estetis *Etika dan Moral *Religius *Teknologis *Manajerial Olahraga Sebagai Disiplin Akademik Kiblat perkembangan ilmu olahraga di Indonesia adalah Amerika. Di Amerika kebanyakan generasi senior berkecimpung di bidang penjas (Physical Education) perkembangannya lebih mengarah ke pendidikan profesi dibanding subyek keilmuannya (akademik). Namun demikian pendidikan akademik memang bisa dikombinasikan dengan pendidikan profesi. Disiplin akademik adalah suatu tubuh pengetahuan (body knowledge) yang terorganisasi dan secara kolektif terpadu dalam materi studi formal. Definisi Ilmu Keolahragaan: Menurut hasil semiloka nasional th 1998 di Surabaya; Ilmu Keolahragaan adalah pengetahuan yang sistematis dan terorganisir tentang fenomena keolahragaan yang dibangun melalui sebuah sistem penelitian ilmiah yang diperoleh dari medan-medan penyelidikan. PENDEKATAN KAJIAN KEILMUAN TERHADAP OR ADA 2 MACAM PENDEKATAN: Pendekatan Interdisiplin Pendekatan kros disiplin PERKEMBANGAN TERMINOLOGI OLAHRAGA Zaman mesir kuno di kota sparta dan athena memiliki bentuk aktivitas pendidikan “Gymnastic” yang bertujuan untuk membentuk tubuh yang baik. Pada abad ke -18 (1895-1904) muncul istilah “Physical Culture” buku yang ditulis Charles Wesley Emerson dari Boston th 1904 yang berarti ilmu dan seni latihan tubuh. Pada akhir abad ke-19 muncul istilah “Physical Training” di AS adalah program latihan fisik yang dirancang untuk meningkatkan kondisi fisik serta keterampilan gerak militer AS. Tahun (1893-1906) muncul istilah “Physical Education” yaitu adanya nilai didik dalam Physical Training. Di Indonesia ada 2 istilah Pendidikan jasmani diganti dengan pendidikan olahraga, tahun 2007 s/d sekarang balik ke penjasor. Sebagai disiplin akademik di Indonesia menggunakan nama Ilmu Olahraga. Oleh:SRI SANTOSO SABARINI,M.Or

MEDAN KAJIAN
Secara ontologis medan kajian ilmu keolahragaan meliputi;
1. Bermain
2. Olahraga
3. Pendidikan Jasmani
4. Rekreasi
5. Tari

Ilmu Olahraga mengkaji tentang fenomena manusia yang berolahraga / bergerak dengan aturan tertentu. Fenomena tersebut dapat diidentifikasi antara lain:
*Biologis
*Anatomis
*Fisiologis
*Psikologis
*Mekanis
*Pedagogis
*Medis
*Sosiologis
*Historis
*Filosofis
*Estetis
*Etika dan Moral
*Religius
*Teknologis
*Manajerial

Olahraga Sebagai Disiplin Akademik
Kiblat perkembangan ilmu olahraga di Indonesia adalah Amerika.
Di Amerika kebanyakan generasi senior berkecimpung di bidang penjas (Physical Education) perkembangannya lebih mengarah ke pendidikan profesi dibanding subyek keilmuannya (akademik).
Namun demikian pendidikan akademik memang bisa dikombinasikan dengan pendidikan profesi.
Disiplin akademik adalah suatu tubuh pengetahuan (body knowledge) yang terorganisasi dan secara kolektif terpadu dalam materi studi formal.

Definisi Ilmu Keolahragaan:
Menurut hasil semiloka nasional th 1998 di Surabaya;
Ilmu Keolahragaan adalah pengetahuan yang sistematis dan terorganisir tentang fenomena keolahragaan yang dibangun melalui sebuah sistem penelitian ilmiah yang diperoleh dari medan-medan penyelidikan.

PENDEKATAN KAJIAN KEILMUAN TERHADAP OR
ADA 2 MACAM PENDEKATAN:
Pendekatan Interdisiplin
Pendekatan kros disiplin

PERKEMBANGAN TERMINOLOGI OLAHRAGA
Zaman mesir kuno di kota sparta dan athena memiliki bentuk aktivitas pendidikan “Gymnastic” yang bertujuan untuk membentuk tubuh yang baik.
Pada abad ke -18 (1895-1904) muncul istilah “Physical Culture” buku yang ditulis Charles Wesley Emerson dari Boston th 1904 yang berarti ilmu dan seni latihan tubuh.
Pada akhir abad ke-19 muncul istilah “Physical Training” di AS adalah program latihan fisik yang dirancang untuk meningkatkan kondisi fisik serta keterampilan gerak militer AS.
Tahun (1893-1906) muncul istilah “Physical Education” yaitu adanya nilai didik dalam Physical Training.
Di Indonesia ada 2 istilah Pendidikan jasmani diganti dengan pendidikan olahraga, tahun 2007 s/d sekarang balik ke penjasor.
Sebagai disiplin akademik di Indonesia menggunakan nama Ilmu Olahraga.

Oleh:SRI SANTOSO SABARINI,M.Or

ilmu olahraga

Maka akan saya jelaskan bagaimana tahap-tahap pada permulaan latihan,

TAHAP PERMULAAN DAN PEMBENTUKAN
Pada tahap ini penekanan aktivitas pada pengembangan kemampuan dasar secara menyeluruh dan menyenangkan (FoUNdation) yang tentunya dengan intensitas latihan yang rendah melalui konsep bermain (games). Materi yang diberikan dapat berupa kemampuan keterampilan gerak dasar dan kemampuan fisik dasar.



Latihan kemampuan Keterampilan Gerak
Pelatihan kemampuan keterampilan banyak diperkenalkan pada gerak dasar seperti running, jumping, catching, throwing, batting, balancing, dan rolling yang dilakukan dengan teknik yang benar. Sehingga tercapai tujuan untuk memberikan pengalaman keterampilan yang lengkap dan dilakukan secara benar. Juga mengembangkan kelenturan, koordinasi dan keseimbangan. Dan, yang tidak kalah pentingnya menanamkan sikap dan sifat disiplin diri dan komit terhadap segala aturan dan tata tertib.
Sebagai dukungan pada tahap ini, pelatih harus dapat menciptakan alat bantu yang sesuai dan tepat sehingga hasilnya menjadi efektif, seperti memodifikasi bola agar tidak menjadi beban atau ketinggian basket yang direndahkan sehingga dapat melakukan gerakan teknik dengan benar. Selain itu, pelatih merancang program yang lebih bervariasi agar anak mempunyai kesempatan melakukan (partisipasi) secara maksimal dan memberi kesempatan untuk berkreasi dan berimajinasi dalam setiap gerakan yang dilakukan. Merancang regulasi permainan agar mudah dipahami serta menciptakan situasi permainan yang dapat menumbuhkan sifat inisiatif untuk saling bekerja sama.